Seks Pranikah. Mengapa Tidak? Jika kami saling mencintai, apakah kami harus menunggu sampai sudah menikah?

Begitulah pemikiran kaum remaja: Jika didasari oleh saling suka dan tidak mengganggu orang lain, kenapa tidak boleh menikmatinya? Bahkan saya pernah mendengarkan mengenai topik ini di radio. Mereka menanyakan: Kamu setuju nggak sih dengan having sex sebelum menikah? Jawaban mereka adalah yang saya sebutkan di awal tadi.

Tetapi apakah pandangan seperti itu benar? Memang tidak dipungkiri pada zaman sekarang ini keperawanan tidaklah menjadi prioritas. Nilai-nilai moral telah mengalami pergeseran seraya waktu berlalu. Buku yang berjudul A Tribe Apart mengatakan, Kaum muda telah membentuk komunitasnya sendiri Komunitas ini bukan sekadar kumpulan teman sebaya, melainkan suatu masyarakat yang terpisah [dari orang dewasa] yang mempunyai nilai-nilai, etika dan aturannya sendiri. Tetapi etika dan aturan di kalangan muda masih saya pertanyakan.

Penyebab

Pubertas dini disebut-sebut sebagai penyebab perilaku seksual di masa dini. Namun, menurut saya apakah hanya semata-mata oleh karena itu. Kematangan seksual dini tidak akan terlalu berpengaruh pada remaja jika dia memiliki perisai yang bisa menangkal pengaruh dari luar. Ya, lingkungan merupakan faktor yang luar biasa bisa memicu semua hasrat yang ada dalam diri seorang remaja. Sayang sekali para remaja malah menerima propaganda yang mengesahkan seks pranikah yang membanjiri buku, majalah, video game, film dan Internet. Media massa menggambarkan seks pranikah sebagai sesuatu yang galmor, menyenangkan dan bebas resiko.

Selain propaganda besar-besaran tersebut ada propaganda yang benar-benar luar biasa hebat. Seperti yang telah kita simak sebelumnya, para remaja memiliki komunitasnya sendiri. Komunitas yang memiliki etika dan aturan sendiri.

Teman-teman sebaya mereka ini mengatakan bahwa hubungan seks akan membuktikan kejantanan dan kewanitaan seseorang. Sementara beberapa remaja mendapat tekanan dari sang pacar, dilengkapi lagi oleh rasa ingin tahu. Dia merasa hidup ini belum lengkap jika belum merasakannya. Apakah para remaja siap menghadapi konsekuensinya? Konsekuensi apa saja itu?

Dampak Fisik

Remaja yang mengadakan hubungan seks tentunya memiliki kemungkinan untuk hamil walau menggunakan alat kontrasepsi. Setiap metode pasti memiliki persentase kegagalan. Bahkan remaja yang secara rutin mengkonsumsinya. Meskipun dia tidak akan hamil, apakah dia bisa menjamin tidak akan terjadi apa-apa di masa yang akan dating. Penyakit-penyakit kelamin seperti sipilis dan gonorhoe dan AIDS yang begitu booming sekarang mungkin bakal menjangkiti mereka. Dan sebenarnya ada bahaya yang lebih menakutkan daripada semua yang saya sebutkan di atas. Bahaya apakah itu?

Dampak Psikologis

Banyak remaja yang mengira kalau mereka mengadakan hubungan seks sewaktu berpacaran, ini akan mendekatkan mereka satu sama lain. Tetapi, kenyataan berkata lain! Hal tersebut sangat mengecewakan-tidak ada perasaan senang ataupun kehangatan cinta yang disangka semula. Mereka akan memandang satu sama lain dengan perasaan berbeda dari sebelumnya. Si gadis mungkin akan tampak kurang menarik dan perasaan si pria terhadap gadis itu tidak akan membara. Sementara si gadis mungkin akan merasa dimanfaatkan atau bahkan direndahkan. Sepasang remaja yang melakukan hubungan seks sebelum menikah sesungguhnya telah melewati garis yang tak mungkin mereka lampaui kembali! Biasanya sepasang kekasih yang telah menyelami hubungan seksual pranikah memiliki persentase yang cukup besar untuk berpisah. Ini disebabkan oleh rasa curiga, tidak percaya dan perasaan cemburu berkembang dalam hati. Seorang remaja mengatakan, Jika dia mau melakukannya dengan saya mungkin dia telah melaukannya dengan orang lain. Sebenarnya, demikianlah perasaan saya Saya luar biasa cemburu dan ragu-ragu, serta curiga.

Setelah saya mengemukakan latar belakang dan faktor-faktor serta bahaya dari seks pranikah, mungkin ada yang berpendapat bahwa memiliki pengalaman seks sebelum menikah akan membantu seorang suami atau istri. Tidak! Hal tersebut justru malah mengurangi kemesraan dalam perkawinan!

Dalam hubungan seks pranikah yang ditekankan adalah memenuhi hawa nafsu dan hanya segi-segi fisik dari seks, tidak ada respek satu sama lain karena hawa nafsu yang tidak terkendali dan pola mementingkan diri. Sedangkan dalam pernikahan, hubungan intim yang sehat menuntut pengendalian diri. Fokusnya adalah pada memberi, memenuhi kewajiban seks terhadap pihak yang satunya, dan bukannya mendapatkan atau menerima. Ingatlah bahwa kepuasan dalam perkawinan tidak diperoleh karena faktor fisik.

Survei menyatakan bahwa mereka yang sudah mengadakan hubungan seks pranikah berpotensi dua kali lebih besar melakukan perzinahan setelah menikah.

Solusi

Komunikasi yang berarti adalah salah satu solusinya. Sepasang kekasih kadang terlalu cepat akrab secara fisik. Mereka menghabiskan waktu dengan pernyataan kasih sayang yang berlebihan sehingga ini mengurangi komunikasi yang bermakna. Mereka bisa saja gelap mata dan akhirnya mengabaikan perbedaan-perbedaan serius yang mungkin akan muncul setelah pernikahan. Jadi, hendaknya sepasang anak manusia yang berpacaran lebih banyak menyediakan waktu untuk berkomunikasi-bisa dengan menyelesaikan problem-problem dan membahas cita-cita dalam hidup.

Kemudian, di samping itu semua, orang tua serta orang dewasa di sekitar remaja berperan penting. Seorang remaja yang memiliki hubungan yang baik dengan orang tua dan orang-orang dewasa yang peduli terhadap mereka cenderung tidak akan memulai aktivitas seksual dini.

Pada akhirnya, semua keputusan ada di tangan kita semua! Semua berawal dari diri sendiri. Apakah dia akan mengambil yang baik atau apakah dia akan mengambil yang buruk. Jawabannya ada pada diri sendiri!