Berita runtuhnya jembatan-jembatan yang panjang dan menghabiskan biaya-biaya yang Ratus Jeto atau M atau bahkan T Trilyun atau bahkan uang selangit sudah tak aneh.Berbagai analisa dan penyelidikan dan sekalian penelitian dilakukan ibarat mencari jarum di tengah tumpukan jerami,padahal jarum digigit si pencari.Ibarat mencari bau tahi ayam di semua tempat padahal tahi ayam menempel di kumis sang pencari atau yang menyuruh pencari fakta.

Sejarah-sejarah kecil membuktikan bahwa di dalam setiap proyek besar kecil atau menengah selalu dananya ada “Sunatan Massal” malahan sunatan yang dikeroyok sunatan bersama sunatan berjamaah sampai ke tokoh partay agama pun ikut nyunat dan berbagai istilah lainnya.

Sejarah membuktikan ketika akan membangun jembatan antar kampung saja yang nilai proyeknya hanya taroh kata 50 jutaan saja yang dibangun,atau yang terpakai untuk membangun hanya 20 jutaan saja.

Yang tiga puluh jutaan entah kemana?.gelap..atau malah digelapkan di kertas-kertas laporan semua tingkatan.Sebagai contoh dulu sejarah di kampung saya akan dibangun jembatan yang bernilai hanya 30 juta rupiah saja yaitu pembangunan jembatan supaya masuk mobil kecil atau motor saja ke suatu kampung,kontraktor Pelaksana sebagai pelaksana pembangunan sudah rugi duluan dari awal-awal penentuan penunjukkan siapa yang berhak membangunnya,semua meja di kantor X meminta jatah,bahkan sampai ke aparat terbawah meminta jatah rokok termasuk para petugas keamanan..lha membangun jembatan apa yang mau di amankan,atau apa yang diamankan mereka..toh barang-barang material bahan untuk membangun tetap saja banyak yang hilang.

Behel-behel dari besi untuk rangka banyak yang hilang,beberapa sak semen juga ikut hilang,bahkan gambar petunjuk kerja juga hilang,sampai cangkul untuk mengaduk bahan tembokan juga hilang.Padahal uang keamanan mah sudah duluan “hilang” ke petugas keamanan atau yang mengaku petugas lainnya,termasuk yang mengaku LSM dan wartawan gadungan.

Terpaksa untuk sekedar basa-basi membangun dan sekedar untuk menghasilkan Foto-foto dari fotografer konsultan dan pengawas bangunan jembatan tetap dilaksanakan meskipun dengan adukan perbandingan semen dan adukan 1 per 20 atau 1 karung semen untuk 20 karung pasir.Besi rangka beton yang seharusnya sekian centimeter diameternya terpaksa diganti dengan diameter ber milimeter saja.

Bangun membangun untuk membuat sebuah citra bahwa pembangunan berjalan lancar dan berhasil meskipun dengan bahan material yang sangat rapuh dan berkualitas rendah.Maka klak-klik di foto,di laporkan diresmikan.

Sebulan kemudian datanglah musim hujan,tibalah banjir,sang jembatan pun oleng,ambruk runtuh tak kuat menahan beban karena bahan-bahannya banyak yang nyunat banyak yang motong banyak yang makan duluan bahkan yang tidak berkepentingan langsung pun sama-sama kebagian rejeki pada waktu membangunnya.akibatnya sang jembatan kurang’ gizi” kurang berkualitas.

Berita ambruknya jembatan Kukar menjadi hangat dan menarik perhatian karena Besar dan Panjang serta besar biayanya,padahal jikalau di bandingkan dengan beratus bahkan beribu buah jembatan-jembatan kecil di seluruh Indonesia harga sebuah jembatan Kukar mungkin hanya sepersekian persen saja dari total nilai kerugian negara dan rakyat oleh peristiwa ambruknya jembatan-jembatan kecil di seluruh pelosok tanah air.

Beratus ribu buah jembatan-jembatan kecil yang ambruk dan runtuh secara konyol,karena belum lama terpakai sudah “mati”duluan yang akhirnya banyak diganti dengan batang pohon kelapa.

Siapa yang salah,ah gampang saja,tinggal buat saja laporannya “RUSAK KARENA BENCANA ALAM” dan semua beres tak akan ada yang bersalah seorang pun.Dan biarkan saja duit rakyat terbuang percuma toh tahun depan rakyat akan bayar pajak lagi,kita bikin proyek baru lagi saja.beres kan…?.