Salah Satu Peninggalan Sejarah di Kota Makassar

Selasa, 31-03-2009 14:36:24 oleh: Meidy
Kanal: Wisata

Benteng Ujung Pandang yang terletak di Jalan Ujung Pandang, kota Makassar (Sulawesi Selatan) merupakan salah satu peninggalan sejarah. Luas areal benteng ini kurang lebih 3 hektar . Lokasi mudah dicapai karena terletak di tengah kota dan di depan Selat Makassar. Dari bandara Internasional Hasanuddin kira-kira 20 menit karena sudah ada jalan tol baru. Saya tahu pasti karena benteng ini bertetangga dengan rumah orang tua saya. Waktu saya masih SD dan pertama kali berkunjung ke benteng ini, saya bisa melihat atap rumah saya ketika saya menaiki salah satu bangunan yang ada dalam areal benteng tersebut.

Pembuatan benteng ini awal pembuatannya oleh Raja Gowa IX Tumaparisi Kallonna kemudian dilanjutkan oleh Raja Gowa X Tunipallangga Ulaweng. Benteng ini menjadi lambang kemegahan dan kejayaan kerajaan Gowa pada abad ke 16 dan 17.

Selain namanya Benteng Ujung Pandang, biasa juga disebut BENTENG PANYNYUWA (Benteng Penyu). Ini dinamakan oleh rakyat Gowa karena melihat bentuk benteng seperti seekor penyu yang merayap menuju ke laut yaitu Selat Makassar. Bentuk penyu ini mengandung makna tentang cita-cita kerajaan yang ingin memegang hegemoni di daratan dan di lautan (seperti penyu yang bisa hidup pada 2 jenis alam). Hal ini dibuktikan bahwa bukan sekedar cita-cita yang mana pada akhirnya timbul persaingan keras antara kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV Mangarrangi Daeng Manrabia Sultan Alaudin dan pihak kompeni Belanda di mana waktu itu pihak kompeni Belanda ingin memonopoli perdagangan di laut Maluku.

Kalau oleh orang tua-tua masih sesekali menyebut benteng ini dengan nama KOTA TOWAYA yang artinya kota tua atau kota lama. Penyebutan ini menunjukkan secara pasti bahwa benteng Ujung Pandang pada masa lalu pernah menjadi pusat kota tempat kedudukan pemerintahan. Benteng ini terletak tidak jauh dari pelabuhan Makassar.

Benteng ini merupakan salah satu benteng pengawal dari Benteng Somba Opu yang merupakan pusat pemerintahan kerajaan Gowa, letaknya di sebelah Utara Benteng Somba Opu. Pada masa jayanya di penghujung abad XVII kerajaan Gowa mempunyai 14 buah benteng yang berfungsi sebagi benteng pengawal. Hanya benteng Ujung Pandang ini satu-satunya yang masih ada dan utuh karena benteng-benteng yang lain sudah tidak ada. Kalaupun ada tinggal sisa-sisanya saja berupa bekas-bekas benteng tersebut. Hancurnya benteng-benteng tersebut karena kekalahan kerajaan Gowa dari perang melawan Belanda dan menandatangani perjanjian Bongaya tahun 1667, benteng-benteng tersebut dihancurkan kecuali Benteng Somba Opu dan Benteng Ujung Pandang.

Oleh karena itu kemudian nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi FORT ROTTERDAM oleh Cornelis Speelman seperti nama kota kelahirannya di Belanda yaitu Rotterdam. Bukan cuma mengubah nama tetapi juga mengubah bangunan-bangunan yang ada dalam benteng. Bangunan-bangunan ditata ulang sesuai keperluan dan selera kompeni Belanda.

Saya sendiri baru berkunjung 3 kali (waktu SD, tahun 2001, tahun 2008) dan belum sempat mengelilingi semua bangunan yang ada di dalamya. Yang saya ingat ada Museum Laga Ligo, Ruang Tahanan Pangeran Diponegoro (saya pernah menulis artikelnya di Wikimu). Ada juga kenangan masa kecil yang saya ingat tentang Benteng tersebut yaitu Pangeran Bernard suami Ratu Juliana (Ratu Belanda) pernah berkunjung ke sana. Waktu itu saya masih kecil dan foto-foto sewaktu beliau berkunjung ada pada salah satu dari ribuan hasil foto yang dimiliki oleh ayah saya.

Semoga Benteng ini tetap dipertahankan keberadaannya dan dipelihara dengan baik karena merupakan peninggalan sejarah, sebab siapa tahu saja besok-besok ada pihak-pihak tertentu yang tergoda untuk mengubahnya menjadi pusat perdagangan alias mal di tengah kota.