GEREJA CANDI Hati KUDUS…” Rupa KRISTUS Sang PERTAPA Jawa
Filed under: Beranda, Warta Berita, Wisata Religi — Tinggalkan Komentar
Maret 14, 2011

3 Votes

“…Arca Bunda MARIA..” dengan Nama DYAH MARIJAH IBOE GANJURAN

“…Gereja Candi HATI KUDUS…”

“…GEREJA Katholik CANDI Hati KUDUS ini tepatnya berlokasi di Kecamatan Ganjuran Kabupaten Bantul DIY Yogyakarta. Bentuk arsitektur bangunan Gereja yang sangat mirip layaknya sebuah Candi Hindu MATARAM – MAJAPAHIT ini adalah suatu bukti Inkulturasi Gereja KATHOLIC dengan BUDAYA masyarakat setempat yaitu JAWA, dengan berbagai nilai keunikannya tersendiri. Menurut informasi yang di peroleh team redaksi NRM ( Nasionalis Rakyat Merdeka ) saat berkunjung ke tempat ini . Bahwa menurut sejarahnya komplek Gereja Katholik Candi Hati Kudus ini didirikan oleh dua bersaudara berkebangsaan Belanda bernama JOSEPH dan JULIUS SCHMUTZER pada tanggal 16 april 1924. Sedangkan keluarga SCHMUTZER ini dulunya adalah Pemilik sekaligus Pengelola sebuah Pabrik Gula Gondang Lipuro. Yang merupakan satu -satunya pabrik gula di kawasan itu yang tidak termasuk bagian perusahaan milik pemerintah Hindia Belanda saat itu. Setelah komplek gereja itu selesai didirikan, tepatnya 3 tahun kemudian yaitu di tahun 1927 komplek gereja ini pun kembali di sempurnakan, dengan di bangunnya sebuah candi di sebelah Timur halaman Gereja dan di beri nama CANDI HATI KUDUS. Candi Hati Kudus ini memiliki pelataran berbentuk relief bunga Teratai dan di dalamnya terdapat Arca YESUS KRISTUS yang bergelar Maha Prabu PANGERANING PARA BANGSA nampak berpakaian layaknya seorang Raja Resi Pendeta Hindu dengan Rambut yang di gulung ke bagian atas kepala. Selain itu terdapat pula Arca Bunda MARIA yang nampak sedang memangku bayi KRISTUS dengan nama DYAH MARIJAH IBOE GANJURAN.

“…Arca YESUS Maha PRABU PANGERANING Para Bangsa…”

Dan Arca Bunda MARIA ini pun nampak berpakaian layaknya seorang Ratu Dewi di Tanah Jawa. Dengan Suasana Alam bernuansa biara para Pertapa Jawa Kuna itu, membuat para peziarahkan merasakan sensasi kenyaman dan ketenangan saat bermeditasi di hadapan Candi, terutama saat malam hari. Tak seperti umumnya Candi – candi Hindu yang menghadap ke Timur, Candi HATI KUDUS ini oleh arsiteknya yang juga berkebangsaan Belanda bernama JYH Van OYEN di buat menghadap ke arah Selatan. Sementara sebuah Bangunan berbentuk JOGLO / PENDOPO ciri khas bangunan Adat Budaya masyarakat JAWA nampak berdiri megah dan di pergunakan sebagai tempat untuk melaksanakan berbagai aktifitas Peribadatan serta berbagai Perayaan Persembahyangan umat KATHOLIK. Bangunan JOGLO / PENDOPO dengan atap berbentuk Tajuk Segitiga sama sisi yang mengkerucut ini, memiliki 4 buah Tiang SAKA Utama sebagai penyangga bangunan. 4 Tiang SAKA yang terbuat dari bahan Kayu Jati yang kokoh ini sekaligus pula Melambangkan 4 Pengarang INJIL Murid – murid YESUS yang bernama : LUKAS, MATIUS, YOHANES serta MARKUS. Sambil berkeliling team redaksi NRM pun mengamati keadaan sekitar yang ternyata bahwa keseluruhan bangunan komplek Gereja KATHOLIC maupun Candi HATI KUDUS ini merupakan perpaduan gaya arsitektur bangunan Adat Jawa, Hindu juga Eropha. Yang kesemuanya itu menghasilkan suatu karya Inkulturasi nan Indah sekaligus sedap di pandang mata. Tak terasa malam pun kian menjelang dan merupakan saat yang tepat untuk Bertekun dan Berdoa di pelataran candi yang mulai nampak di datangi oleh para peziarah. Dan kini nampaklah tiang SALIB Menyala Terang di Atas Puncak Candi.

“…ALTAR GEREJA Hati KUDUS…” di Bangunan Pendopo / Joglo Ibadat.

Sementara di bagian dalam Candi nampak pula menyala terang perwujudan Arca KRISTUS Maha Prabu PANGERANING PARA BANGSA dengan Hati Yang Terbuka. Bagi siapapun yang hendak berdoa di perkenankan untuk berdoa di dalamnya dengan terlebih dahulu menaiki anak – anak tangga pelataran Candi yang berjumlah 9 itu. Bagi para peziarah di tempat ini pun dapat memperoleh Air Suci dengan nama Tirtha PRAWITASARI yang di percaya berkhasiat pula bagi penyembuhan berbagai penyakit dan lain sebagainya. Berdasarkan keterangan para petugas Gereja yang kebetulan juga berpakaian Adat ala JAWA yaitu : Jas BESKAP serta BLANGKON itu, kepada team redaksi NRM ( Nasionalis Rakyat Merdeka ) perihal sejarah keberadaan Air Suci itu. Maka di katakanlah bahwa suatu ketika di sekitar Tahun 1998 mendadak di temukanlah sumber mata air yang nampak mengalir keluar tepat dari bawah bangunan Candi dan setelah di teliti Air Jernih yang mendadak keluar dari bawah bangunan Candi ini ternyata dapat langsung di minum. Maka oleh pihak pengurus setempat di buatlah saluran dari pada Air yang mengalir itu agar dapat di pergunakan pula oleh Umat dan para Peziarah sesuai keperluannya. Suasana malam yang kian hening nampak terlihat di areal sekitar bangunan Pendopo / Joglo serta halaman Candi. Seiring Mata yang Terpejam serta Gerak Jemari mendaras butir demi butir biji ROSARI. Para Peziarah pun terlihat khusyuk melantunkan Doa Puja serta Bhakti dari dalam Lubuk Hati. Yang kian terlarut tapaki malam Hening dan Sunyi Tengelam dalam ketekunan Doa Samadhi. Bersama Kuasa Ilahi yang Memancar ke segenap Relung Hati serta ke seisi Alam Semesta ini…” Selamat Bertandang dan Berdoa dalam KETEKUNAN…serta Salam DAMAI SEJAHTERA Bagi Mu.